header-int

Melihat Tradisi Rewang dan Sinom di Desa Karang Sari

Jumat, 07 Apr 2017, 21:23:54 WIB - 544 View
Melihat Tradisi Rewang dan Sinom di Desa Karang Sari

TRADISI : Para perewang laki-laki sedang mengaduk Jenang (dodol) salah satu hidangan wajib saat acara pernikahan adat Jawa.(SLAMET HARMOKO/RADAR PANGKALAN BUN)

PROKAL.CO, Salah satu gotong-royong yang masih melekat dikalangan masyarakat eks Transmigran saat ini adalah tradisi rewang ketika ada warga atau tetangga sedang menggelar hajatan. Biasanya hajatan besar yang digelar berupa pernikahan atau sunatan. Salah satunya di Desa Karang Sari, Kecamatan Pangkalan Banteng.

SLAMET HARMOKO, Pangkalan Banteng

Desa yang berada di sisi selatan wilayah Kecamatan Pangkalan Banteng itu hampir 80 persen dihuni oleh warga transmigran dari Pemalang dan Semarang Jawa Tengah. Sehingga tradisi rewang masih sangat kental di kawasan tersebut.

”Rewang itu tradisi masyarakat sebagai salah satu cara membantu keluarga atau tetangga yang sedang mengadakan kenduri, pesta pernikahan, sunatan maupan perhelatan pesta adat lain dan harus membutuhkan bantuan tenaga untuk mengurus segala macam keperluan acara, terutama konsumsi dan juga jalannya acara,”ungkap Larsito, salah satu tokoh masyarakat dan juga tetua Desa Karang Sari, Rabu (5/4)siang.

Meski terbilang sudah kuno ditengah perkembangan mudahnya mencari jasa katering dan juga wedding organization kegiatan rewang ini sebuah bentuk atau cerminan tradisi gotong-royong dan saling merasa memiliki, satu orang menggelar hajatan diibaratkan satu desa yang merasakan.

”Ini tradisi kita, meski sudah berpuluh-puluh tahun di Kalimantan setiap ada warga yang hajatan rewang dan sinoman ini pasti ada,”tambahnya.

Beberapa hal menarik dari rewang ini berupa adanya panitia  yang terbagi tugas mereka masing-masing. Ada yang menjadi pemimpin dapur yang bisa dibilang sebagai tangan kanan tuan rumah dan bertanggung jawab terhadap kesuksesan jamuan makan selama pesta berlangsung. Sekitar dua pekan sebelum acara dimulai pemilik hajatan sudah mulai menghubungi tetangga yang bisa dipercaya dan berpengalaman mengelola perjamuan pesta.

Kemudian pemimpin dapur membentuk panitia kecil yang mempunyai tanggung jawab berbeda beda. Sebagai contoh untuk urusan menyediakan minuman teh dan kopi, memasak nasi, mencuci piring serta perabotan, menyiapkan air dan kayu bakar dikerjakan para bapak hingga ada panitia khusus yang menggarap jajanan dan kue-kue untuk suguhan para tamu. Sedangkan para ibu meracik bumbu, memasak, belanja ke pasar dan sebagainya.

”Untuk kue-kue dan jajanan itu ada kekhususan sendiri pelaksananya, terutama untuk yang mengurusi pembuatan jenang (dodol), wajik (dodol dengan ketan), dan jadah (tetelan) dan juga lemper yang menjadi hidangan wajib saat pesta pernikahan adat Jawa,”tambahnya.

Karena di desa maka persiapan kayu bakar untuk tungku api sudah disiapkan jauh-jauh hari. Mereka membuat tenda khusus yang berfungsi sebagai dapur umum. Satu dua hari sebelum pesta, tetangga terutama kaum ibu sudah berdatangan untuk membantu mempersiapkan berbagai jenis bumbu masakan dan juga bahan-bahan masakan.Tak jarang mereka membawa pisau, serbet, panci, wajan dan beberapa alat masak yang dibutuhkan dari rumah masing-masing.

Rewang yang biasanya disandingkan dengan sinom atau disebut nyinom diartikan sebagai cara membantu menyumbangkan tenaga dan kebutuhan hajatan semampunya bagi tetangga untuk urusan memasak dan menyiapkan pesta adat atau jamuan makan pernikahan.

”Selain menyumbang tenaga sebagian ada juga yang menyumbang bahan-bahan kebutuhan masakan berupa beras , ayam, telur dan gula,”katanya lagi.

Saat pelaksanaan memasak secara otomatis kendali di dapur atau tenda masak dipegang oleh pemimpin juru masak. Yang lebih unik lagi ada semacam kesepakatan atau bisa dibilang tatakrama tidak tertulis bahwa tuan rumah penyelenggara pesta atau hajatan tidak diperkenankan menengok atau keluar masuk tempat mereka memasak.

”Tuan rumah tidak boleh ikut campur, mereka diistimewakan. Tidak perlu ikutan masak atau menyiapkan semuanya. Tuan rumah menjadi penyambut tamu atau menemani tamu yang hadir,”terangnya.

Menurutnya dengan sering munculnya tuan rumah atau penyelenggara pesta ke tempat mereka memasak secara sosial dapat diartikan bahwa mengurangi kepercayaan pada tanggung jawab pemimpin juru masak dan para tetangga yang sedang rewang. Ketidakpercayaan ini dikhawatirkan bisa menimbulkan kesalahpahaman.

Bagaimana ketika tuan rumah membutuhkan menu makanan tertentu. Maka akan ada semacam utusan  sebagai penghubung agar ada yang mengantar makanan kepada tuan rumah.Bagi tetangga yang sedang rewang akan seharian penuh berada di rumah pemilik pesta, bahkan kadang mereka hanya pulang malam hari dan esok pagi kembali lagi.

Salah satu contoh perewang yang selama tiga hari membantu memasak di rumah penyelenggara pesta. Maka tiap peserta rewang akan mendapat kiriman makanan beserta lauk pauknya bagi anggota keluarga yang ditinggal selama masa rewang.

”Mereka bekerja dengan sukarela. Memberi bantuan tanpa memperhitungkan waktu dan tenaga. Dan kita akan jaga terus tradisi ini,”katanya.

Diakhir perbincangan Larsito mengatakan banyak makna dan pelajaran di balik ‘rewang’ dan ‘nyinom’. Tak hanya menunjukkan betapa kuatnya ikatan kekeluargaan, para tetangga juga menunjukkan bagaimana semestinya gotong-royong dirawat sebagai bagian budaya bangsa. Dalam kesederhanaan, mereka meninggalkan pekerjaan di kebun untuk meluangkan hari mereka untuk bersilaturahmi dan berbagi.

”Tak hanya merawat gotong royong, para tetangga ini pun mengajarkan bentuk toleransi yang paling hakiki dan tak sebatas teori. Karena saat rewang tak ada lagi sekat antara orang berada dan tidak punya bahkan agama apa yang mereka anut,”pungkasnya

 

Sumber : http://sampit.prokal.co/read/news/8649-melihat-tradisi-rewang-dan-sinom-di-desa-karang-sari.html

Unidha Desa Amin Jaya, adalah Desa yang terletak di Kecamatan Pangkalan Banteng Kab. Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah
© 2018 Desa Amin Jaya Follow Desa Amin Jaya : Facebook Twitter Linked Youtube